KARYAWISATA PANGANDARAN

KATA PENGANTAR


Syukur alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik dan Hidaya-Nya sehingga penulis dapat berwisata ke Pangandaran dengan selamat dan dapat menyelesaikan laporan karya tulis ini dengan lancar.
Laporan karya  wisata ini tidak akan terselesaikan dengan baik apabila tidak ada bantuan dari pihak lain, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.        Orang tua penulis yang telah memberi dukungan dan telah membiayai penulis untuk mengikuti Karya wisata.
2.        Bapak Drs. NANA selaku Kepala MTs. Al-Istiqomah Sukajaya.
3.        Bapak Lumri, S.Ag. selaku pembimbing penyusunan laporan karya wisata ini.
4.        Semua pihak yang telah membantu penulis, baik secara material dan spiritual dalam pelaksanaan Karya wisata dan penyusunan laporan ini.
Akhir kata, penulis mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam perkataan maupun penulisan. Semoga laporan karya tulis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amiin …..
Rajadesa, Januari  2012


Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................................      iii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. v DAFTAR GAMBAR……………………………………………………........................................ viii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... .... ix
BAB I      PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1
B.   Tujuan Pembuatan Laporan ................................................................ 4
C.   Manfaat  …………………………………………………………………            6
C.   Sistematika Penulisan ......................................................................... 5
BAB II    SEKITAR KARYA WISATA
A.     Masa Persiapan             ………….………………………………………..........  7
B.     Jadwal Pelaksanaan  …………………………………………………… 7
C.     Perbekalan  ……………………………………………………………..  8
BAB III   OBYEK WISATA PANGANDARAN
A.       Wather Park ....................................................................................... 19
B.    Cagar Alam  ....................................................................................... 20
C.     Pantai Pangandaran …………………………………………............... 21
BAB   KESIMPULAN DAN SARAN
A.       Kesimpulan   ...................................................................................... 32
B.        Saran .................................................................................................. 32
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Salah satu tugas akhir  siswa-siswi   MTs. Al-Istiqomah Sukajaya Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis adalah menyusun Karya Tulis laporan hasil Karya Wisata.
Karya Wisata adalah merupakan pendidikan yang langsung terjun ke lokasi tempat-tempat bersejarah dan alam sekitar  untuk  mengamati secar langsung tempat bersejarah dan keadaan alam di sekitar kita.
Karya Wisata  adalah suatu kegiatan mendidik siswa untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan wawasan yang luas melalui pengamatan secara langsung pada  alam sekitar. Pada tahun ini siswa-siswi   MTs. Al-Istiqomah Sukajaya Kec. Rajadesa Kabupaten Ciamis. Akan mengadakan pendidikan berbasis alam   ke sekitar Pantai Pangandaran. 
Pada tanggal 21-22 Desember 2011  siswa-siswi   MTs. Al-Istiqomah Sukajaya Kec. Rajadesa Kabupaten Ciamis mengadakan Karya Wisata ke sekitar Pantai Pangandaran. 
Para siswa perlu membuat laporan setelah kegiatan tersebut selesai, seperti hal yang di lakukan penulis dan teman-teman penulis. Adapun tujuan mengapa penulis membuat laporan ini untuk menceritakan pengalaman yang di alami penulis.
Penulis membuat laporan ini bukan hanya untuk menceritakan pengalaman yang di alami penulis saja melainkan juga untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Ujian Akhir Madrasah di Kelas IX.
MTs. Al-Istiqomah Sukajaya Kec. Rajadesa, yang diwajibkan untuk menyusun karya tulis yang berupa makalah pendidikan berbasis alam.

1.2    Tujuan Penyusunan Laporan
Tujuan dari penulisan Karya Tulis tentang Objek  Wisata Pangandaran  adalah:
a.Tujuan Umum
   Sebagai salahsatu upaya untuk men transfer pengalaman serta pengetahuan kami dalam bentuk tulisan yang pada akhirnya dapat memunculkan rasa cinta terhadap agama, bangsa, dan tanah air tercinta.
b.Tujuan Khusus
   Secara khusus tulisan ini kami buat sebagai bahan laporan wajib untuk memenuhi tugas akhir kelas IX serta mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
1.3  Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian dan penulisan Karya Ilmiah tentang Mesjid Agung Demak adalah:
a.       Mengetahui keadaan objek wisata wathwr Fark
b.      Mengetahui Pantai Pangandaran
c.       Mangetahui Cagar Alam Pangandara
1.3    Sistematika Penyusunan

BAB I      : PENDAHULUAN
  1.1  Latar Belakang Pembuatan Laporan
  1.2 Tujuan Pembuatan Laporan
  1.3 Sistematika Penulisan
BAB II     : SEKITAR KARYA WISATA SISWA
   2.1 Masa Persiapan
   2.2 Waktu Pelaksanaan
  2.3 Perbekalan
BAB III PEMBAHASAN
3.1 WATERPARK
3.2 PANTAI PANGANDARAN
3.3 CAGAR ALAM

BAB 1V PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
4.2 SARAN























BAB II
SEKITAR KARYA WISATA



























BAB  III
OBJEK WISATA PANGANDARAN

3.1 Water Park Pangandaran
Pangandaran Waterpark
Tempat wisata ini terhitung yang paling muda hadir di wilayah Pangandaran. Berbeda dengan waterpark yang ada, waterpark Pangandaran berada di pinggir pantai lembah puteri. lokasinya sekitar 5 kilometer sebelum masuk pintu wisata pangandaran, tepatnya dikecamatan Kalipucang. Waterpark ini dibangun dalam beberapa kolam besar dan lapangan khusus buat ATV track dan dibangun diatas lahan lebih dari 10 hektar.

Fasilitas yang disajikan antara lain seperti umumnya waterpark, seperti luncuran, waterbom dan sebagainya, anda juga bisa menikmati petualangan seperti highrope dan yang lainnya, untuk anda yang suka dengan ATV, anda juga bisa memanfaatkan fasilitas yang ada disini. Untuk fasilitas umum biaya yang harus dikeluarkan sekitar 10rb-25 untuk hari-hari besar atau libur panjang. Didalamnya selanjutnya anda bisa menyewa pelampung atau perahu plastik untuk berenang
3.1  Pantai Pangandaran
3.1.1 Gambaran Umum Tentang Pangandaran
Objek wisata yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran dengan jarak 92 km ke arah selatan dari Kota Ciamis ini memiliki keistimewaan seperti : Dapat melihat terbit dan terbenamnya matahari dari satu tempat yang sama, jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita berenang dengan aman, dan terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.
Dengan adanya faktor-faktor tadi, maka wisatawan yang berkunjung ke pantai Pangandaran dapat melakukan kegiatan yang beraneka ragam. Di Pangandaran pun terdapat acara tradisional yaitu Hajat Laut. Hajat Laut merupakan upacara yang dilakukan nelayan sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka terhadap kemurahan Allah SWT, dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Acara ini biasa dilaksanakan pada tiap-tiap bulan Muharam dengan mengambil tempat di pantai timur Pangandaran.
Event pariwisata bertaraf Internasional yang selalu dilaksanakan disini adalah Festival Layang-layang Internasional (Pangandaran International Kite Festival) dengan berbagai kegiatan pendukungnya yang bisa disaksikan pada tiap bulan Juni atau Juli. Para wisatawan pun dapat menikmati fasilitas yang tersedia, antara lain :
a.       Hotel, restoran,penginapan, dan pondok wisata dengan tarif bervariasi.
b.      Pelayanan pos, telekomunikasi, dan money changer.
c.       Gedung bioskop, diskotik, dan lapangan parkir yang cukup luas.
3.1.2  Sejarah Pantai Pangandaran
Sejarah Pangandaran
 
Pada awalnya Desa Pananjung Pangandaran ini dibuka dan ditempati oleh para nelayan dari suku sunda. Penyebab pendatang lebih memilih daerah Pangandaran untuk menjadi tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil yang membuat mudah untuk mencari ikan. Karena di Pantai Pangandaran inilah terdapat sebuah daratan yang menjorok ke laut yang sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung, tanjung inilah yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai. Di sinilah para nelayan menjadikan tempat tersebut untuk menyimpan perahu yang dalam bahasa sundanya disebut andar setelah beberapa lama banyak berdatangan ke tempat ini dan menetap sehingga menjadi sebuah perkampungan yang disebut Pangandaran. Pangandaran berasal dari dua buah kata pangan dan daran . yang artinya pangan adalah makanan dan daran adalah pendatang. Jadi Pangandaran artinya sumber makanan para pendatang.
Lalu para sesepuh terdahulu memberi nama Desa Pananjung, karena menurut para sesepuh terdahulu di samping daerah itu terdapat tanjung di daerah inipun banyak sekali terdapat keramat-keramat di beberapa tempat. Pananjung artinya dalam bahasa sunda Pangnanjung-nanjungna ( paling subur atau paling makmur)
Pada mulanya Pananjung merupakan salah satu pusat kerajaan, sejaman dengan kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggan sekitar abad XIV M.  setelah munculnya kerajaan Pajajaran di Pakuan Bogor.  Nama rajanya adalah Prabu Anggalarang yang salah satu versi mengatakan bahwa beliau masih keturunan Prabu Haur Kuning, raja pertama kerajaan Galuh Pagauban, namun sayangnya kerajaan Pananjung ini hancur diserang oleh para Bajo (Bajak Laut) karena pihak kerajaan tidak bersedia menjual hail bumi kepada mereka, karena pada saat itu situasi rakyat sedang dalam keadaan paceklik (gagal panen).
Cagar Alam Pananjung3.2    Cagar Alam Pananjung






Pananjung Pangandaran adalah semenanjung kecil yang terletak di pantai selatan Kabupaten Ciamis, di wilayah pariwisata Pangandaran.
Menurut sejarah pembentukannya, diduga Pananjung dulu merupakan sebuah pulau kecil, yang kemudian terhubung dengan daratan Pulau Jawa akibat proses sedimentasi pasir. Pananjung sekarang berstatus sebagai cagar alam. Dari tempat ini orang dapat menyaksikan keindahan terbit dan terbenamnya matahari.
Pananjung adalah istilah orang penduduk lokal sebutan lain dari Pangandaran. Letak panajung membentuk teluk dan diapit pantai barat & pantai timur, diujung selatan ada cagar alam yang menghadap ke pantai laut lepas. terletak di daerah perbatasan prov JATENG & prov JABAR. Masuk wilayah Kab Ciamis JABAR
Dari Pantai Barat Pangandaran, melihat ke samping kiri terhampar pantai pasir putih sementara di belakangnya terlihat kawasan Cagar Alam Pananjung sebagai kawasan konservasi flora dan fauna. Kita dapat naik perahu ke seberang sana atau memutar melalui jalan darat masuk ke cagar alam terlebih dahulu. Mengambil jalan laut untuk menuju Pantai Pasir Putih. kita dapat melihat perahu-perahu yang membawa pengunjung mendarat di pantai indah ini. ke dalam kawasan konservasi Cagar Alam Pananjung. Konon kawasan seluas 530 hektar ini memiliki kekayaan bunga Raflesia Padma, Banteng, Rusa dan berbagai jenis Kera. Masuk ke dalam kawasan ini, dapat merasakan berada di dalam hutan yang masih cukup alami
Di dalam kawasan konservasi, menjumpai banyak kera di jalan dan di pohon. sampai bagian ujung yaitu dekat dengan Gua Jepang. di sekitar gua sangat ramai pengunjung dan pedagang yang menjajakan barang-barang seni kerajinan hasil pantai.
Objek wisata ini merupakan satu-satunya objek wisata hutan yang ada di Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Keadaan topografi sebagian besar landai dan di beberapa tempat terdapat tonjolan bukit kapur yang terjal.
TWA Pangandaran memiliki kekayaan sumber daya hayati berupa flora dan fauna serta keindahan alam. Hutan sekunder yang berumur 50-60 tahun dengan jenis dominan antara lain laban, kisegel, merong , dan sebagainya. Juga terdapat beberapa jenis pohon peninggalan hutan primer seperti pohpohan kondang, dan benda . Hutan pantai hanya terdapat di bagian timur dan barat kawasan, ditumbuhi pohon formasi Barringtonia, seperti butun, ketapang.
Dengan berbagai ragam flora, kawasan TWA Pangandaran merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan satwa-satwa liar, antara lain tando, monyet ekor panjang , lutung , kalong , banteng, rusa, dan landak. Sedangkan jenis burung antara lain burung cangehgar, tlungtumpuk, cipeuw , dan jogjog. Jenis reptilia adalah biawak , tokek, dan beberapa jenis ular, antara lain ular pucuk.
Banyaknya flora dan fauna yang berkembang biak di sana merupakan daya tarik tersendiri. Tidak heran jika TWA Pangadaran tidak pernah sepi dari kunjungan para wisatawan. Selain itu, TWA ini mempunyai berbagai daya tarik lainnya, seperti Batu Kalde, salah satu peninggalan sejarah zaman Hindu. Selain itu, banyak terdapat gua alam dan gua buatan seperti Gua Panggung, Gua Parat, Gua Lanang, Gua Sumur Mudal, dan gua-gua peninggalan Jepang.
Daya tarik lainnya yang berada di TWA, baik yang berada di kawasan cagar alam darat maupun cagar alam laut, adalah Batu Layar, Cirengganis, Pantai Pasirputih di kawasan cagar alam laut. Lalu, padang pengembalaan Cikamal, yang merupakan areal padang rumput dan semak seluas 20 ha sebagai habitat banteng dan rusa. Air terjun yang berada di kawasan cagar alam bagian selatan, dapat ditempuh dengan jalan kaki selama 2 jam melalui jalan setapak.
Sejarah kawasan
Pada tahun 1922, seorang Belanda bernama Eyken membeli tanah pertanian di pananjung Pangandaran, kemudian memindahkan penduduk yang tinggal di daerah yang sekarang menjadi taman wisata alam. Selanjutnya daerah tersebut dikelola sebagai daerah perburuan pada tahun 1931.
Pada tahun 1934, daerah tersebut diresmikan menjadi sebuah wildreservaat dengan keputusan Statblad 1934 nomor 663. Tetapi dengan ditemukannya jenis-jenis tumbuhan penting, termasuk Raflesia patma pada tahun 1961, membuat statusnya diubah menjadi cagar alam, dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.34KMP/tahun 1961. Akhirnya pada 1978, karena adanya potensi yang dapat mendukung pengembangan pariwisata alam, sebagian wilayah cagar alam yang berbatasan dengan areal permukiman statusnya diubah menjadi taman wisata alam.
Tahun 1990 dikukuhkan pula kawasan perairan di sekitar cagar alam laut (470 ha), sehingga luas kawasan perairan di sekitar Pangandaran seluruhnya menjadi 1.500 ha. Perkembangan selanjutnya berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.104/kpts-II/1993, pengusahaan TWA Pangandaran diserahkan kepada Perum Perhutani dan diserahkan fisik pengelolaannya pada 1 November 1999.
TWA Pangandaran mempunyai banyak legenda, seperti legenda Gua Parat. Gua ini dulu tempat bertapa dan bersemedi beberapa pangeran dari Mesir, yaitu Pangeran Kesepuluh (Syekh Ahmad), Pangeran Kanoman (Syekh Muhammad), Pangeran Maja Agung, dan Pangeran Raja Sumenda. Di dalam gua ini terdapat dua kuburan sebagai tanda bahwa di tempat inilah Syekh Ahmad dan Muhamad menghilang (tilem).
Gua Panggung
Menurut cerita, yang berdiam digua ini adalah Embah Jaga Lautan atau disebut pula Kiai Pancing Benar. Beliau merupakan anak angkat dari Dewi Loro Kidul dan ibunya menugaskan untuk menjaga lautan di daerah Jabar dan menjaga pantai Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, beliau disebut Embah Jaga Lautan.
Gua Lanang
Gua ini dulunya merupakan keraton pertama Kerajaan Galuh. Sedangkan keraton yang kedua terdapat di Karang Kamulyan Ciamis. Raja Galuh adalah laki-laki (lanang) yang sedang berkelana.
Situs Batu Kalde Atau Sapi Gumarang

Situs Batu Kalde Atau Sapi Gumarang

Ditempat ini menurut cerita tinggal seorang sakti yang dapat menjelma menjadi seekor sapi yang gagah berani dan sakti.Sapi Gumarang adalah nakhoda kapal, pada suatu hari Sapi Gumarang ini diutus untuk membeli padi kedaerah Galuh, akan tetapi tidak berhasil sebab Raja Galuh tidak mengijinkan berhubungan persediaan padi untuk daerah itu sendiri belum mencukupi
Nakhoda kapal sangat marah mendengar hal itu kemudian dia mengutus  Sapi Gumarang untuk merusak seluruh Galuh dan sekitarnya. Sapi Gumarang dapat menjalankan tugasnya dengan baik terbukti seluruh padi baik yang berada di lumbung dan disawah terkena hama.
Raja Galuh sangat terkejut dengan keadaan ini dan beliau yakinhal ini pasti dilakukan oleh utusan Nakhoda, kemudian beliau menyusun putra angkatnya Sulanjana untuk mencari Sapi Gumarang dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dan akan membantu Kerajaan Galuh apabila terserang hama

Cirengganis
Legenda Mata Air Cirengganis

Legenda Mata Air Cirengganis



Cerita ini berawal dengan adanya sebuah pemandian berupa sungai kepunyaan seorang Raja bernama Raja Mantri. Pada suatu hari Raja Mantri pergi melihat-lihat pemandiannya, kebetulan waktu itu Dewi Rengganis dan para Inangnya sedang mandi.
Dewi Rengganis adalah putri dari kayangan, karena terdorong oleh perasaan hatinya kemudian Raja Matri mengambil pakaian Dewi Rengganis. Alangkah terkejutnya sang Dewi karena pakaiannya sudah tidak ada pada tempatnya, Inangnya disuruh untuk mencarinya akan tetapi tidak berhasil. Karena kesalnya Dewi Rengganis kemudian berkata barang siapa menemukan bajunya maka akan dijadikan saudara bila perempuan dan bila laki-laki akan dijadikan suami.
Semua perkataan Dewi terdengan oleh Raden Mantri kemudian dia keluar dari persembunyiannya. Untuk menepati janji, Dewi Rengganis bersedia menjadi istri Raden Raja Mantri.
Setelah menikah kemudian pemandian ini diserahkan kepada Dewi Rengganis. Sejak itu pemandian itu dinamakan Cirengganis dan sampai sekarang banyak orang yang masih percaya akan khasiat apabila mandi disana
Gua Jepang
Sejarah Gua Jepang Pangandaran

Gua Jepang di Kawasan Cagar Alam Pangandaran di buat Periode (1941-1945), saat itu Balatentara Dai Nippon menduduki seluruh pulau Jawa dan Madura, pembangunan Gua jepang ini di lakukan oleh para pekerja paksa (Romusa) selama ± 1 tahun, dan sampai sekarang gua jepang di kawasan Cagar Alam Pangandaran belum pernah di renovasi, jadi masih nampak keasliannya.
Gua jepang yang berada di kawasan Cagar Alam Pangandaran, terbuat dari tembok beton yang sengaja di timbun tanah sebagai benteng pertahanan tentara Dai Nippon (Jepang), dengan lubang-lubang pengintai menghadap ke arah laut, hal itu di maksudkan untuk mengawasi pendaratan dari pihak sekutu Belanda.
Ada 3 gua jepang di kawasan Cagar Alam Pangandaran, salah satunya memiliki kedalaman 10 meter dengan lubang -lubang pengintai sekitar 1 meter.
Sebagai Informasi sampai sekarang, setiap tanggal 17 agustus selalu di adakan upacara khusus yang dilakukan oleh warga Jepang yang tinggal di sekitar Pangandaran, upacara tersebut biasanya berupa ritual-ritual khusus sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur orang jepang.

Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam Pangandaran semula merupakan tempat perladangan penduduk. Tahun 1922, ketika Y. Eycken menjabat Residen Priangan, diusulkan menjadi Taman Buru. Pada waktu itu dilepaskan seekor Banteng, 3 ekor Sapi Betina dan beberapa ekor rusa. Karena memiliki keanekaragam satwa yang unik dan khas serta perlu dijaga habitat dan kelangsungan hidupnya maka pada tahun 1934, status kawasan tersebut diubah menjadi Suaka Margasatwa dengan luas 530 ha.
Tahun 1961, setelah ditemukan bunga Raflesia Fatma yang langka, statusnya diubah lagi menjadi Cagar Alam. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan tempat rekreasi, maka pada tahun 1978, sebagian kawasan tersebut (37,70 ha) dijadikan Taman Wisata. Pada tahun 1990 dikukuhkan kawasan perairan di sekitarnya sebagai Cagar Alam Laut (470 ha), sehingga luas seluruhnya menjadi 1.000 ha.
Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 104/Kpts-II/1993 pengusahaan wisata TWA Pangandaran diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di kawasan konservasi Pangandaran dan sekitarnya adalah: lintas alam, bersepeda, berenang, bersampan, scuba diving, snorking dan melihat peninggalan sejarah.
Cagar alam seluar ± 530 hektar, yang diantaranya termasuk wisata seluas 37,70 hektar berada dalam pengelolaan SBKSDA Jawa Barat II. Memiliki berbagai flora dan fauna langka seperti Bunga Raflesia Padma, Banteng, Rusa dan berbagai jenis Kera. Selain itu, terdapat pula gua-gua alam dan gua buatan seperti: Gua Panggung, Gua Parat, Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, gua Jepang serta sumber air Rengganis dan Pantai Pasir Putih dengan Taman Lautnya. Untuk Taman Wisata Alam (TWA) dikelola Perum Perhutani Ciamis.


1 komentar:

  1. Mau tanya,ini bab 2 ya koq hilang yh? pdahal sya mau baca..

    BalasHapus